Preview only show first 10 pages with watermark. For full document please download

Bab V Profil Satwaliar Gunung Pulosari

BAB V PROFIL SATWALIAR GUNUNG PULOSARI A. Kehadiran Satwaliar Kelompok Mamalia Gunung Pulosari memiliki ketinggian hingga mdpl sehingga potensi keanekaragaman hayati (KEHATI) pada ketinggian tersebut

   EMBED

  • Rating

  • Date

    May 2018
  • Size

    775.9KB
  • Views

    6,092
  • Categories


Share

Transcript

BAB V PROFIL SATWALIAR GUNUNG PULOSARI A. Kehadiran Satwaliar Kelompok Mamalia Gunung Pulosari memiliki ketinggian hingga mdpl sehingga potensi keanekaragaman hayati (KEHATI) pada ketinggian tersebut diduga masih banyak menyimpan berbagai jenis satwaliar khususnya kelompok mamalia dari berbagai tingkatan rantai makanan. Dari pengamatan satwaliar kelompok mamalia yang telah dilakukan di kawasan Gunung Pulosari berhasil mengidentifikasi sebanyak 12 jenis satwaliar kelompok mamalia. Berbagai metode pengamatan satwaliar digunakan untuk mengamati kehadiran satwaliar kelompok mamalia dengan tujuan agar kegiatan pengamatan memperoleh hasil yang maksimal. Hasil pengamatan satwaliar kelompok mamalia secara lengkap dapat dilihat pada Tabel V-1 berikut ini. Tabel V-1. Kehadiran satwaliar kelompok mamalia di kawasan Gunung Pulosari. No Nama Jenis Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Metode pengamatan 1 Lutung jawa Trachypithecus auratus Cercopithecidae Pengamatan 2 Monyet ekor panjang Macaca fascicularis Cercopithecidae Kamera trap 3 Rusa timor Rusa timorensis Cervidae Jejak 4 Kijang muntjak Muntiacus muntjak Cervidae Jejak 5 Pelanduk Tragulus sp Tragulidae Kamera trap 6 Babi hutan Sus barbatus Suidae Kamera trap, sarang 7 Musang galling Paguma larvata Viverridae Kamera trap, pengamatan 8 Garangan jawa Herpestes javanicus Herpestidae Pengamatan 9 Trenggilling peusing Manis javanica Manidae Sarang 10 Tikus Rattus sp Muridae Pengamatan 11 Tupai Tupaia sp Tupaidae Pengamatan 12 Bajing Callosciurus sp Sciuridae Pengamatan Berdasarkan data pada Tabel V.1 bahwa 12 jenis satwaliar kelompok mamalia teridentifikasi melalui berbagai metode yaitu metode pengamatan langsung, metode kamera trap, metode jejak, hingga identifikasi sarang. Kehadiran jenis mamalia di kawasan Gunung Pulosari cukup menarik karena BLHD Propinsi Banten V. 1 ditemukan satwa-satwa yang jarang ditemukan yaitu Herpestes javanicus dan Trachypithecus auratus. Kehadiran mamalia kecil di kawasan Gunung Pulosari cukup melimpah karena ditemukan beberapa jenis mamalia kecil seperti jenis Tupaia sp, Rattus sp dan Callosciurus sp. Kelimpahan mamalia kecil nampaknya ditentukan terutama oleh kelimpahan jumlah kayu dan ranting yang jatuh, luas/banyaknya onggokan batu dan daerah yang basah, serta jumlah tunggul-tunggul kayu dan kepadatan vegetasi dengan ketinggian yang rendah dan pada tingkat tajuk. Struktur-struktur di atas nampaknya menyediakan banyak tempat untuk meloloskan dan menyembunyikan diri sehingga meningkatkan kemampuan untuk menghindari hewan pemangsa (Kemper & Bell 1985; Bernard 2004 dalam Meijaard dkk. 2006). Komposisi dan kelimpahan struktur-struktur tersebut di suatu tempat nampaknya yang menciptakan struktur dan spesifikasi habitat tertentu sehingga membedakan jenis-jenis mamalia kecil yang hadir. Kehadiran mamalia kecil yang cukup melimpah diduga telah mengundang kehadiran satwa pemangsanya yaitu jenis Herpestes javanicus. Secara umum, Herpestes javanicus memiliki warna cikelat dan memiliki ekor yang lebih panjang dibanding kerabat lainnya yang ada di Indonesia. Pada saat pengamatan dilakukan satwa jenis Herpestes javanicus sedang melintas (diduga sedang mencari pakan) di sekitar kebun-kebun masyarakat. Pada umumnya, jenis Herpestes javanicus dapat ditemukan di semak dan lapangan terbuka dari pada di hutan lebat (Ario, 2010). Satwa tersebut merupakan satwa terrestrial atau satwa yang aktif bergerak di lantai hutan dan mencari makanan berupa cacing tanah, hewan bertubug lunak (molusca) dan mamalia kecil. Jenis Herpestes javanicus merupakan satwa generalis dan toleran terhadap perubahan/degradasi habitat. Jenis tersebut terkadang membuat sarangnya pada daerah yang berdekatan dengan aktivitas manusia seperti pemukiman masyarakat, persawahan maupun kebun-kebun. Data pada Tabel V.1 juga menunjukkan adanya keragaman pada tingkat famili (suku). Kehadiran satwaliar kelompok mamalia dilihat dari tingkat famili (suku) menandakan adanya persaingan atau kompetisi dalam hal perebutan BLHD Propinsi Banten V. 2 Jumlah Jenis Profil Keanekaragaman Hayati dan Perubahan Tutupan Lahan resources pada suatu kawasan hutan. Pengelompokkan berdasarkan famili secara lengkap dapat dilihat pada Gambar V.1 berikut ini Famili Gambar V.1. Keragaman satwaliar kelompok mamalia berdasarkan pengelompokkan famili di kawasan Gunung Pulosari. Berdasarkan data pada Gambar V.1 menunjukkan bahwa terdapat 8 famili dari 12 jenis mamalia yang teridentifikasi. Famili Cercopthecidae dan Cervidae merupakan famili dengan jumlah jenis terbanyak yaitu masing-masing 2 jenis mamalia. Sedangkan famili lainnya hanya terdapat satu jenis mamalia. Apabila dilihat dari sisi jumlah famili, sistem rantai makanan dapat digolongkan masih dalam kondisi yang seimabang karena terdapat jenis-jenis satwa herbivora (misalnya famili Tragulidae) dan jenis-jenis satwa carnivora (misalnya famili Herpestidae) (Rayadin dkk, 2013). Kondisi ini dapat dilihat dari perbedaan jumlah jenis mamalia pada setiap famili yang tidak signifikan dan cenderung seimbang. Namun, di sisi lain kondisi ini cukup memprihatinkan karena komposisi jenis mamalia pada setiap famili sangat sedikit. Hal ini diduga karena pengeloaan hutan yang tidak terkontrol sehingga para perambah hutan dapat dengan mudah membuka lahan pada kawasan Gunung Pulosari. Hilangnya luasan kawasan hutan menyebabkan habitat satwaliar khususnya mamalia berkurang sehingga BLHD Propinsi Banten V. 3 hanya spesies-spesies tertentu yang mampu bertahan hidup pada kawasan tersebut (Rayadin dkk, ). Secara umum, mamalia dapat dikelompokkan berdasarkan perilaku satwa diantaranya perilaku makan, waktu aktif dan stratifikasi ekologi. Pengelompokkan mamalia berdasarkan perilaku dapat dilihat pada Tabel V.2 berikut ini. Tabel V-2. Klasifikasi jenis mamalia berdasarkan perilaku kelas makan, waktu aktif dan stratifikasi ekologi. No Nama Ilmiah Family Kelas Makan Waktu aktif Stratifikasi Car Her Omn Diu Noc Met Arb Ter 1 Trachypithecus auratus Cercopithecidae 2 Macaca fascicularis Cercopithecidae 3 Rusa timorensis Cervidae 4 Muntiacus muntjak Cervidae 5 Tragulus sp Tragulidae 6 Sus barbatus Suidae 7 Paguma larvata Viverridae 8 Herpestes javanicus Herpestidae 9 Manis javanica Manidae 10 Rattus sp Muridae 11 Tupaia sp Tupaidae 12 Callosciurus sp Sciuridae *keterangan : Car = Carnivora, Her = Herbivora, Omn = Omnivora, Diu = Diurnal, Noc = Nocturnal, Met = Metaturnal, Arb = Arboreal, Ter = Terresterial Berdasarkan data pada Tabel V.2 menunjukkan adanya keragaman pada kategori perilaku satwa. Keragaman tersebut sangat beralasan karena pada lokasi penelitian masih terdapat areal yang berhutan. Meskipun demikian, pembukaan lahan untuk perkebunan semakin lama semakin meningkat merupakan ancaman besar bagi kehidupan satwaliar. Kehadiran satwaliar khususnya mamalia pada Gunung Pulosari berdasarkan perilaku satwa menjadi bio-indikator bahwa kondisi hutan di kawasan Gunung Pulosari masih tergolong baik misalnya keragaman satwa pada kategori kelas makan. Gambar V.2 menunjukkan jumlah jenis satwa berdasarkan kelas makan. BLHD Propinsi Banten V. 4 (a) (b) (c) Gambar V.2. (a) Kehadiran satwa berdasarkan kelas makan, (b) Kehadiran satwa berdasarkan waktu aktif, dan (c) Kehadiran satwa berdasarkan stratifikasi ekologi. BLHD Propinsi Banten V. 5 Data pada Gambar V.2 menunjukkan bahwa adanya keragaman satwaliar berdasarkan kelas makan. Kondisi ini menjukkan rantai makanan pada ekosistem Gunung Pulosari masih tergolong baik. Hadirnya satwa herbivora misalnya Tupaia sp merupakan bukti ketersediaan pakan berupa material tumbuhan masih cukup tersedia sehingga jenis-jenis satwa herbivora masih dapat bertahan hidup pada habitat yang terdegradasi. Pada lokasi penelitian di Gunung Pulosari ditemukan pohon dari famili Moraceae (famili pohon pakan satwaliar) yang menjadi sumber pakan bagi satwalir. Secara umum, kehadairan sata-satwa herbivora dapat mengundang satwasatwa pemangsa baik omnivora maupun carnivora seperti Paguma larvata dan Herpestes javanicus. Jenis Paguma larvata merupakan jenis yang dapat memakan lebih dari satu sumber makanan yaitu buah-buahan dan binatang-binatang kecil (Francis, 2008). Kondisi ini sesuai yang dikatakan Ali kodra (1989) yaitu satu kesatuan kawasan yang dapat menyediakan kebutuhan satwaliar dapat menarik kehadiran satwaliar dari berbagai spesies. Gambar V.3. Jenis Paguma larvata ditemukan di kawasan Gunung Pulosari. BLHD Propinsi Banten V. 6 Selain kelas makan, satwaliar juga dapat dibagi dalam kategori waktu aktif. Pada penelitian yang telah dilakukan di kawasan Gunung Pulosari menunjukkan adanya satwa-satwa yang aktif bergerak pada malam hari (nocturnal), aktif pada siang hari (diurnal) dan aktif pada kedua waktu tersebut (metaturnal). Pada Gambar V.2 (c) dapat dilihat bahwa kehadiran mamalia metaturnal lebih banyak dibandingkan dengan mamalia diurnal. Kondisi tersebut erat kaitannya dengan stratifikasi ekologi. Mamalia yang aktif pada siang hari (diurnal) merupakan mamalia yang cenderung aktif bergerak di atas pohon (arboreal) misalnya jenis Trachypithecus auratus dan Macaca fascicularis. Kondisi ini berkaitan dengan adanya aktivitas manusia pada siang hari sehingga, meskipun aktivitas manusia cukup intensif namun satwa arboreal seperti jenis Trachypithecus auratus dan Macaca fascicularis cenderung tidak terganggu. Gambar V.4. Jenis Macaca fascicularis ditemukan di kawasan Gunung Pulosari. BLHD Propinsi Banten V. 7 Mamalia jenis Trachypithecus auratus merupakan satwa dilindungi oleh PP No. 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Pada umumnya, jenis Trachypithecus auratus hidup secara berkelompok yang berjumlah 8-20 individu dan dapat ditemukan pada hutan bakau di pesisir, hutan dataran rendah hingga hutan dataran tinggi. Terkadang Trachypithecus auratus juga tinggal di daerah perkebunan. Menurut penelitian, sebagian besar makanan jenis Trachypithecus auratus adalah daun, tetapi satwa tersebut dapat juga memakan buah terutama buah Ficus (ara) dan bunga. Trachypithecus auratus sangat suka memakan daun dan buah yang berasa asam dan sepat. Trachypithecus auratus sedikit sekali memerlukan air untuk minum karena kebutuhan air hariannya sudah terpenuhi dari daun dan buahbuahan yang dimakannya (Clutton, 1977). BLHD Propinsi Banten V. 8 B. Kehadiran Satwaliar Kelompok Burung Berbicara mengenai penyebaran jenis avifauna menurut waktu berkaitan dengan dinamika kawasan hutan di gunung polu sari sebagai habitat bagi jenisjenis avifauna. Avifauna dengan tingkat pertemuan konstan pada setiap periode dapat disebut sebagai jenis penetap, jenis yang telah merespon dengan baik pertumbuhan vegetasi dengan berbagai kompleks habitat yang terbentuk. Avifauna tersebut juga nampaknya masih dapat ditemukan di setiap ketinggian pada kawasan hutan di gunung pulo sari. Dalam penelitian ini mencoba mencatat dan merekam sebanyak mungkin jenis avifauna yang ditemukan, baik melalui metode pengamatan dan penangkapan maupun identifikasi lewat suara. Kawasan hutan Gunung Polusari merupakan daerah dengan ketinggian puncak meter dari permukaan laut yang pada umumnya merupakan habitat yang cukup baik bagi berbagai macam jenis avifauna, walaupun pada kenyataannya memperlihatkan bahwa penyebaran keanekaragaman di dalam hutan tropis juga ada kecenderungan tidak merata. Beberapa jenis avifauna yang hadir di gunung polu sari umumnya adalah jenis-jenis yang termasuk ke dalam kelompok pemakan serangga (Insectivore) dan atau campuran antara serangga dan buah-buahan. Jenis-jenis yang memiliki variasi makanan yang cukup luas (generalist) umumnya adalah jenis yang mampu bertahan hidup lebih baik terhadap perubahan lingkungan dibandingkan jenisjenis yang terspesialisasi kepada satu jenis makanan tertentu saja. Secara ekologis tentu sangat menarik melihat kehadiran dari jenis-jenis burung yang ada kaitannya dengan keberadaan jenis makanan yang tersedia di dalam kawasan tersebut. Adapun kehadiran jenis avifauna di gunung polu sari berdasarkan kelas makannya secara detail dapat dilihat pada tabel V-10 di bawah ini. BLHD Propinsi Banten V. 9 Tabel V-3. Kehadiran satwaliar kelompok burung di kawasan Gunung Pulosari. No Lokal Nama Jenis Latin Famili Kelas Makan 1 Elang Hitam Ictinaetus malayensis Accipitridae R D 2 Raja Udang Kalung Biru Alcedo euryzona Alcedinidae Insec/Pisc D 3 Raja Udang Meninting Alcedo meninting Alcedinidae Insec/Pisc D 4 Udang Api Ceyx erithacus Alcedinidae Insec/Pisc D 5 Layang-layang Rumah Delichon dasypus Alaudidae 6 Delimukan Zamrud Chalcophaps indica Columbidae AF TD 7 Tekukur Biasa Streptopelia chinensis Columbidae AFGI 8 Perkutut Jawa Geopelia striata Columbidae AFGI 9 Cica daun kecil Chloropsis cyanopogon Chloropseidae AFGI 10 Gagak Hutan Corvus enca Corvidae AFGI 11 Bubut Alang-alang Centropus bengalensis Cuculidae AFGI 12 Bubut Besar Centropus sinensis Cuculidae AFGI 13 Cabai Jawa Dicaeum trochileum Dicaeidae AFGI/F TD 14 Bentet kelabu Lanius schach Laniidae 15 Burung madu gunung Aethopyga eximia Nectariniidae NIF D 16 Burung madu belukar Anthreptes singalensis Nectariniidae NIF D 17 Burung madu kelapa Anthreptes malacensis Nectariniidae NIF D 18 Pijantung Kecil Arachnothera longirostra Nectariniidae NI D 19 Pjantung Besar Arachnothera robusta Nectariniidae NI 20 Kepudang kuduk hitam Oriolus chinensis Oriolidae AFGI/F TD 21 Gelatik jawa Padda oryzivora Ploceidae TF TD 22 Bondol Rawa Lonchura malacca Ploceidae TF TD 23 Empuloh Irang Alophoixus phaeocephalus Pycnonotidae AFGI/F 24 Cucak Kutilang Pycnonotus aurigaster Pycnonotidae AFGI/F 25 Cucak kuning Pycnonotus melanicterus Pycnonotidae AFGI/F TD 26 Merbah Kaca Mata Pycnonotus erythrophthalmos Pycnonotidae AFGI/F TD 27 Cucak Kuricang Pycnonotus atriceps Pycnonotidae AFGI/F 28 Empuloh janggut Alophoixus bres Pycnonotidae AFGI/F 29 Merbah Cerukcuk Pycnonotus goavier Pycnonotidae AFGI/F 30 Paok Pancawarna Pitta guajana Pittidae 31 Cinenen Pisang Orthotomus sutonus Silviidae AFGI 32 Cinenen Jawa Orthotomus sepium Silviidae AFGI 33 Cinenen Kelabu Orthotomus ruficeps Silviidae AFGI TD 34 Cinenen Merah Orthotomus sericeus Silviidae AFGI TD 35 Pelanduk Semak Malacocinla sepiarium Timaliidae TI 36 Kacamata Gunung Zosterops montanus Zosteropidae 37 Kacamata biasa Zosterops palpebrosus Zosteropidae BLHD Propinsi Banten V. 10 Status Nasional Dari 37 jenis avifauna yang tergabung ke dalam 17 famili berhasil teridentifikasi. Selama studi berlangsung terdapat kelompok avifauna yang dilindungi yaitu dari suku Accipitridae (elang), Alcedinidae (burung raja udang), dan Nectariniidae (burung madu). Famili avifauna adalah pengelompokkan jenis yang memiliki ciri-ciri morfologi relatif berdekatan (tidak sama) dan umumnya secara genetika mereka juga memiliki beberapa persamaan, walaupun antar individu dalam satu jenis saja sering kali ditemukan perbedaan. Tetapi famili menunjukkan bahwa secara silsilah biologi jenis-jenis yang ada di dalamnya memiliki tingkat kekerabatan atau kekeluargaan yang lebih erat dibandingkan dengan jenis-jenis lain dari famili lainnya yang berbeda. Selain pengelompokkan jenis berdasarkan famili, Tabel V.10 juga memperlihatkan jenis avifauna yang memiliki kebiasaan dan makanan yang kurang lebih sama. Jenis avifauna pemakan buah dikategorikan sebagai frugivore, pemakan serangga sebagai insectivore dan seterusnya. Kemudian lebih rinci lagi kelas makan membedakan mereka ke dalam sub kelas makan yang lebih sempit (Feeding guild), seperti burung pemakan serangga yang mencari makanannya diantara dedaunan di bagian tajuk hutan (Arboreal foliage gleaning insectivore, AFGI), dan banyak lainnya. Berdasarkan hasil identifikasi jenis avifauna hubungannya dengan kelas makannya secara umum dapat dilihat pada Tabel V.10 dimana dari ke 37 jenis avifauna yang berhasil diidentifikasi pada umumnya didominansi oleh avifauna kelompok pemakan insectivore/frugivore, sedangkan bila dilihat dari kelompok familinya yang paling dominan adalah famili Pycnonotidae (7 jenis) diikuti famili Nectariniidae (5 jenis) dan famili Silviidae masing-masing sebanyak 4 jenis. Suku Alcedinidae merupakan kelompok burung berwarna terang dengan makanan utama serangga atau vertebrata kecil, tetapi beberapa jenis dari suku ini juga memakan ikan. Tiga jenis yang berhasil teramati pada lokasi pengamatan yaitu Raja udang kalung biru (Alcedo euryzona), Raja Udang Meninting (Alcedo meninting), dan Udang Api (Ceyx erithacus). Ditemukannya jenis-jenis ini di BLHD Propinsi Banten V. 11 kawasan hutan Gunung Polusari dikarenakan pada sekitar lokasi pengamatan merupakan sumber air (Curug Putri dan Curug Sawer) yang memiliki potensi biota air sebagai sumber pakannya. Gambar V.5. Jenis Raja udang kalung biru (Alcedo euryzona) yang berhasil teridentifikasi kehadirannya dengan menggunakan kamera jarak jauh. Suku Nectariniidae merupakan suku yang dapat dikenali dengan baik dari paruh panjangnya yang melengkung. Jenis ini pada umumnya merupakan pemakan nektar dan sari bunga, tetapi ada juga yang memakan serangga. Jenisjenis dalam famili ini lebih menyukai semak dan menghisap madu tumbuhtumbuhan bawah. Semua jenis ini bersifat aktif, tidak kenal lelah dan bergerak terus menerus mencari makan (MacKinnon, J. dkk. 2000). Jenis Arachnothera longirostra merupakan jenis burung pemakan nektar dan serangga kecil yang umum ditemukan di areal hutan yang sudah sedikit terbuka, bekas tebangan, bekas terbakar atau pun bekas perladangan dengan skala yang kecil. Berbeda dengan Anthreptes malacencis dan Hypogramma hypogrammicum, kedua jenis ini merupakan pemakan nektar, serangga maupun buah-buahan jenisjenis pionir seperti Loranthus, Musa dan Hybiscus (MacKinnon, J. dkk. 2000). Jenis ini juga termasuk dalam status sering ditemukan (common Spesies), walaupun BLHD Propinsi Banten V. 12 secara hukum semua jenis dalam famili Nectariidae (penghisap madu) termasuk dalam jenis yang dilindungi. Gambar V.6. Jenis burung madu belukar (Anthreptes singalensis) yang berhasil teridentifikasi kehadirannya dengan menggunakan jala kabut. Cucak-cucakan adalah suatu famili dengan jumlah jenis besar dan terkait dengan pilihan habitat yang bervariasi. Kelompok jenis ini merupakan kelompok yang sangat sering ditemui. Pada pengamatan di kawasan hutan gunung pulo sari berhasil mengkonfirmasi kehadiran jenis Merbah Mata Merah (Pycnonotus brunneus). Jenis ini merupakan jenis yang hanya ditemukan pada wilayah-wilayah yang masih memiliki tutupan tajuk yang relatif rapat atau dengan kata lain wilayah hutan yang masih baik. Selain jenis yang telah disebutkan di atas, beberapa jenis yang teramati maupun tertangkap dalam mist net antara lain; Pycnonotus goavier (Merbah Cerukcuk), Pycnonotus aurigaster (Cucak Kutilang), Alophoixus phaeocephalus (Empuloh Ireng), dan Pycnonotus erythrophthalmos (Merbah Kaca Mata). Melimpahnya jenis cucak-cucakan terutama di lokasi pengamatan. Cukup BLHD Propinsi Banten V. 13 beralasan, mengingat burung ini termasuk kelompok spesies generalist frugivore/insectivores dan memakan buah-buahan jenis-jenis pionir dan Spesies ini memainkan peranan yang penting dalam mempercepat proses penyebaran jenis-jenis pionir pada hutan-hutan bekas tebangan. Gambar V.7. Jenis Merbah cerukcuk (Pycnonotus goavier) yang berhasil teridentifikasi kehadirannya dengan menggunakan kamera jarak jauh. BLHD Propinsi Banten V. 14